Gangguan Irama jantung

Gangguan Irama jantung

Aritmia adalah gangguan detak atau irama jantung. Gejala dapat dirasakan ketika jantung berdetak lebih cepat dari normal (takikardia) atau ketika jantung berdetak lebih lambat dari normal (bradikardia). Jantung yang berdenyut lebih lambat tentu akan mengganggu peredaran darah ke otak sehingga penderitanya sewaktu-waktu dapat pingsan tiba-tiba. Sebaliknya, jika jantung berdenyut terlalu cepat dalam jangka waktu yang lama, maka dapat menimbulkan gejala berdebar, sesak nafas maupun nyeri dada yang pada jangka panjang akan mengakibatkan gagal jantung menetap yang tentunya akan sangat merugikan kesehatan pasien.

Aritmia disebabkan oleh gangguan impuls jantung maupun gangguan penghantaran listrik jantung. Hal ini dapat terjadi bila sel saraf khusus yang ada pada jantung yang bertugas menghasilkan dan atau menghantarkan listrik tersebut tidak bekerja dengan baik. Aritmia juga dapat terjadi bila bagian lain dari jantung menghasilkan sinyal listrik yang abnormal.

Gejala Aritmia terkadang tidak disadari, walaupun beberapa alat portabel saat ini sudah dapat mendeteksi adanya aritmia, tetapi untuk mengetahui berat ringannya aritmia harus dilakukan pemeriksaan yang rutin seperti rekam jantung/Elektrokardiografi (EKG) maupun yang khusus seperti uji treadmill atau USG jantung. Alat lainnya yang dapat mendeteksi gangguan irama adalah alat Holter Monitoring maupun Event monitoring yang dapat merekam irama jantung selama 24-36 jam bahkan beberapa minggu. Aritmia dapat dipicu oleh stress, kelelahan, maupun gangguan jantung lain seperti serangan jantung maupun kelainan katup jantung .

Aritmia dapat menimbulkan kematian mendadak dan seringkali dicurigai sebagai serangan jantung maupun stroke namun ironisnya beberapa jenis aritmia lainnya tidak menunjukkan gejala. Namun demikian beberapa aritmia tanpa gejala dapat menyebabkan masalah yang berat di kemudian hari seperti gagal jantung, kematian jantung mendadak, pingsan, maupun rasa lemah berlebihan atau dada berdebar kencang. Seperti misalnya aritmia Supra ventricular takikardi yang dapat menimbulkan kelemahan dan rasa mau pingsan maupun Fibrillasi Atrial yang akan mengakibatkan penggumpalan darah di dalam jantung dan dapat menyebabkan stroke. Pasien dengan fibrilasi atrial memiliki risiko sebesar 500% (5x lipat) untuk terkena stroke, gagal jantung dan kematian tiba-tiba.

Kabar baiknya, aritmia adalah salah satu penyakit jantung yang dapat disembuhkan secara total dalam arti penderita mungkin tidak perlu lagi mengkonsumsi obat-obat anti aritmia seumur hidupnya. Teknologi terkini sudah dapat melakukan hal tersebut tanpa melalui prosedur pembedahan dan tanpa bius total yang tentunya akan lebih aman dan nyaman untuk pasien. Untuk mengatasi aritmia dengan irama jantung yang lebih cepat dari normal sebuah teknologi kedokteran yang disebut Ablasi baik yang dilakukan dengan metode konvensional maupun 3 dimensi dan telah digunakan secara luas dan aman. Ablasi adalah tindakan intervensi non bedah dengan cara memasukkan kateter ablasi serupa dengan kabel mini melalui pembuluh darah di daerah lipat paha maupun leher untuk kemudian mencapai jantung. Dengan sebuah metode yang dinamakan Electrophysiology study (EPS) maka dengan menggunakan kateter tersebut, yang diletakkan di beberapa tempat di permukaan dalam jantung (endocard), diagnosis aritmia kemudian ditegakkan. Kateter tersebut akan mengirimkan suatu gelombang radiofrekuensi yang kemudian akan mengablasi (memanaskan) dengan tujuan menonaktifkan jalur konduksi atau sel jantung yang abnormal penyebab aritmia. Kini bahkan teknologi tersebut telah berkembang dengan ditemukannya Teknik ablasi dingin atau cryo ablation.

Tindakan ablasi baik secara konvensional maupun 3 dimensi, memiliki resiko yang rendah dan dapat dikatakan cukup aman untuk dilakukan. Tingkat keberhasilan ablasi bervariasi untuk setiap diagnosis/kelainan irama namun kisarannya mencapai 90-98%. Beberapa kelainan memang secara alamiah memiliki tingkat kekambuhan/rekurensi yang lebih tinggi namun secara umum dapat dikatakan tingkat kekambuhan berkisar antara 2-5% , namun dengan melakukan reablasi angka tersebut akan menurun drastis. Tindakan ablasi dapat dilakukan dalam waktu yang singkat dan pemulihannya pun tidak lama. Penderita hanya memerlukan rawat inap selama 1 malam untuk keesokan harinya dapat pulang dan bekerja seperti biasa keesokan harinya tanpa perlu pengawasan maupun pantangan khusus.

BAGAIMANA DENGAN OLAHRAGA?

Olahraga bukan merupakan kontra indikasi mutlak pada penderita dengan aritmia. Beberapa jenis aritmia memang dapat terpicu dan memburuk bahkan hanya dengan aktifitas sedang, maka pada penderita aritmia yang belum diablasi atau memiliki kontraindikasi untuk ablasi dianjurkan berkonsultasi dahulu ke dokter spesialis jantungnya untuk mendapatkan saran aktifitas olahraga apa saja yang boleh dilakukan. Bagaimana dengan penderita aritmia yang sudah menjalani ablasi? Penderita yang sudah menjalani tindakan ablasi yang berhasil (Succesful ablation) maka tidak ada lagi pembatasan olahraga maupun aktifitas selama masih memungkinkan.

SAYA SERING PINGSAN DAN LEMAH APAKAH SAYA MENDERITA ARITMIA?

Pada penderita aritmia dengan gejala denyut jantung yang melambat akan memiliki gejala seperti pingsan atau serasa mau pingsan (sinkop), kelemahan yang berkepanjangan, sesak nafas jika aktifitas maupun pusing. Pada penderita kelemahan denyut jantung maka terapinya adalah dengan cara memasang alat pacu jantung permanen. Alat pacu ini akan diimplan di bawah kulit, biasanya di dada sebelah kiri atau kanan atas. Alat ini akan bekerja dengan cara memberikan impuls listrik buatan yang dihasilkan oleh generator yang diatur oleh mikrokomputer. Alat ini dapat bertahan hingga 12 tahun dan pada saat baterai sudah habis maka yang diganti hanyalah baterai/generator nya saja (terintegrasi dalam satu alat) sehingga tidak perlu melakukan pemasangan kabel baru. Beberapa alat lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi aritmia antara lain ICD (implantable cardioverter defibrillator)  yaitu alat yang dapat memberikan kejutan listrik dan impuls pada jantung dipasang pada psien dengan riwayat aritmia yang mengancam jiwa, CRT (Cardiac Resynchronization Therapy)  yaitu alat yang dapat mensinkronkan denyutan bilik kiri dan kanan sehingga kontraksi jantung dapat menjadi optimal, CRT dipasang pada penderita gagal jantung yang berat dan menahun.

Aritmia jantung merupakan sebuah kelainan irama jantung yang seringkali luput dari perhatian karena memang ahli di bidang ini masih sangat langka. Hanya ada 28 ahli aritmia jantung (cardiac electrophysiologist) yang ada di Indonesia saat ini. RS Hermina Daan Mogot sangat beruntung memiliki seorang ahli aritmia sehingga dengan fasilitas katerisasi (cathlab) barunya telah dapat melakukan ablasi dan pemasangan alat pacu jantung bagi pasien-pasien yang membutuhkan.



Dr. Agung Fabian Chandranegara, SpJP(K), FIHA

Dokter Sub Spesialis Jantung (Konsultan Aritmia dan Elektrofisiologi Jantung)

RS Hermina Daan Mogot



Jadwal Praktek :

Senin : 16.30 – 20.00 Wib (Regular)

Selasa : 16.00 – 18.00 Wib (Eksekutif)

Rabu : 16.30 – 20.00 Wib (Regular)

Jum'at : 16.30 – 20.00 Wib (Regular)

Sabtu : 09.00 – 12.00 Wib (Regular pagi)

16.30 – 19.00 Wib (Regular sore)



Call Centre : 1500.488 / 021.80618050

www.herminahospitals.com